Simpul Jari Book : A Finger Knot Journey

 


 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bismillahirrahmanirrahim……

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rini Febriani Sari

(Owner Simpul Jari)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A Finger Knot Journey

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Penghargaan hanyalah milik orang yang pertama memulai, walaupun orang yang datang kemudian dapat melakukannya lebih baik.” –Tsaurah Tunis-

 

“Kamu tidak harus hebat untuk memulai, tapi kamu harus memulai untuk menjadi orang hebat” –Zig Ziglar-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKATA

 

            Pertama dan yang paling utama, saya ucapkan syukur kepada Allah yang telah memberikan kesehatan yang melimpah, kesempatan untuk memberi manfaat, serta nikmat akal yang begitu dahsyat.

            Tak lupa juga saya ucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad yang telah memberikan teladan kepada umatnya. Dengan teladannya, saya nulis buku ini dengan penuh optimis.

            Terima kasih saya ucapkan kepada ibunda saya yang telah memberikan dukungannya hingga pada tahap ini. Yang selalu meluruskan saya ketika hilang arah, selalu memberikan masukan ketika hampa dan selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Doa-doa yang senantiasa beliau langitkan istiqamah dan ikhlas akhirnya mampu membawa saya sampai sejauh ini. I love you so much!

            Terima kasih saya ucapkan kepada Bank Indonesia Pematang Siantar yang telah menaungi UMKM dari Sisi Batas Labuhan dalam pengembangan usaha dengan menggelar program yang sangat bermanfaat WUBI.

            Terima kasih kepada Tim IMUTS Pelatih Indonesia, sebagai coach pengembangan owner dan usaha. Saya ucapkan terima kasih atas segala ilmu yang diberikan selama pedampingan. Semoga Coach semua sehat selalu, berkah langkahnya dan diberi kekuatan untuk menyebarkan ilmunya. Suatu hari saya bakalan rindu masa-masa  di dampingi, belajar selama 9 kali pertemuan dan masa-masa indah yang pernah terjalin selama tugas-tugas dari tim IMUTS.

            Terima kasih untuk seluruh Entrepreneur hebat di WUBI Pematang Siantar Batch II, akan ada masa saya sangat rindu. Pas nulis kata pengantar ini saja sudah merasakan aroma rindu atas kenangan yang pernah terjalin selama belajar bersama. Sangat menginspirasi saya sebagai peserta termuda, single pula, dan memotivasi saya untuk maju, serta berkarya lebih besar lagi.

            Dan terimakasih untuk semua yang turut andil kepada simpul jari, sahabat dan customer tersayang. Telah memberikan masukan juga untuk simpul jari agar lebih maju dan upgrade.

            Sekian saya ucapkan terima kasih dan maaf bila ada tutur kata dalam penyampaian di buku ini yang kurang berkenan.

 

Pematang Siantar, 24 November 2022

Salam Hormat

 

 

Rini Febriani Sari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

PRAKATA.. iv

DAFTAR ISI. vii

PERAN BI DI PROGRAM WUBI. 1

CHAPTER I ARAH LANGKAH.. 6

A.   Bangku Kuliah. 6

B.    Busy is Easy, But! 10

CHAPTER II MELAWAN ARUS. 17

A.   Mulai Koma. 17

C.    Titik Terang. 19

D.    Try it 23

CHAPTER III AHA.. 25

A.   Buruan, Stok Terbatas! 25

B.    Bukan Bunga Tidur 28

C.    100 in 2015. 30

CHAPTER IV PENILAIAN.. 31

A.   Be Brave! 31

CHAPTERV BOOTHCAMP IN NIAGARA.. 34

A.   Selamat Datang Entrepreneur! 34

B.    First Impression Entrepreneur 36

C.    Jendela Mulai Terbuka Satu Persatu. 44

D.   Perjalanan Panjang Untuk Waktu Singkat 54

CHAPTER VI  PENDAMPINGAN.. 58

A.   Pertumbuhan dan Perubahan. 58

B.    Bakalan Missing Every Moment 65

POTRET DI SETIAP MOMENT. 67

 

 

 

 


 


PERAN BI DI PROGRAM WUBI

 

Hadirnya Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Republik Indonesia, memberikan sejumlah program yang membantu menstabilkan ekonomi masyarakat. Terutama fokus pengembangan UMKM,  karena sangat berpengaruh terhadap sektor perekonomian daerah.

Peran BI untuk mendukung UMKM sangat berupaya dalam pengendalian dan pelatihan UMKM yang mencakup seluruh aspek, ada di bidang keuangan, legalitas, pemasaran. Sehingga program WUBI dalam hal ini memajukan perekonomian yang diharapkan UMKM yang dilatih bisa sukses.

Mulai dari standarisasi, packaging, go digital, manajemen usaha, pola pikir dan kualitas usaha yang go ekspor. Bank indonesia juga melakukan pendekatan untuk memotivasi UMKM agar mampu berinovasi dan naik kelas. Sehingga UMKM tersebut bisa berdaya saing. Yang mana produknya sudah berinovasi dalam bentuk kemasannya, tampilan, design, platform digital dan standard yang memenuhi kualitas UMKM naik kelas.

Nah, di program WUBI inilah para UMKM dari masing-masing daerahnya akan dipilih dengan tahapan seleksi. Mulai dari pendaftaran, administrasi, asessment (wawancara) dan visit (kunjungan lokasi usaha). Setelah lulus dari tahapan tersebut, akan dipilih beberapa peserta dari kebijakan Kpw BI masing-masing dari tiap daerah. Lalu proses tersebut berlanjut pada tahap Boothcamp dan pedampingan hingga wisuda (Mini University Preneurs).

Dengan tujuan, (1) Memperkuat efektivitas kebijakan moneter dan bauran kebijakan BI untuk mencapai stabilitas nilai rupiah; (2) Memperkuat sinergi kebijakan BI dengan kebijakan fiskal dan reformasi struktural pemerintah dalam mengelola defisit transaksi berjalan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; (3) Memperkuat kebijakan BI yang bersinergi dengan kebijakan pemerintah dan OJK untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan digital. (sumber: bi.go.id)

Oleh karena itu, peran Bank Indonesia sangat berpengaruh dalam mencapai keseimbangan pendapatan negara yang berasal dari UMKM. Maka, dengan adanya program WUBI ini membantu UMKM naik kelas sebagai dukungan terhadap sinergi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

 

-Rini Febriani Sari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada pagi dalam setiap waktu manusia,

Gemerincing suaranya senyap dan sunyi,

Udara bertebaran dengan bebas disana sini,

Embun meliputi alam teresapi,

 

Aku berbisik pada bumi;

Bilamana sakit yang tengah dialami;

Bilamana patah arang meliputi;

Bahkan hilang telah menghampiri;

Aku, takkan berakhir disini

Takkan kubiarkan aku tiada tanpa esensi

 

Ku buka mataku dengan perlahan pasti,

Ku tegakkan pundak tanpa pasi,

Ku berkata pada dunia dengan berani,

Aku disini;

Hidup;

Dan bersyukur,

Siap untuk segala kemungkinan yang terjadi.

 

-Pematang Siantar, 24 November 2022

 

 

 

 

 

 

Gambar pembuka bab I


 

CHAPTER I
ARAH LANGKAH

 

A.    Bangku Kuliah

            Di sepanjang koridor pelataran kampus, semilir angin berhembus mengenai ranting dan dedaunan di sambut desir pasir melambai ke arahku. Menyuguhkan kilauan terpaan sengatan matahari yang datang menemui pandangan, menjadi pergulatan kaki-kaki yang berlarian antara pulang dan pergi. Sekelebat suara berdering di daun telinga, meramaikan beberapa rasa yang hampir tak terarah.

 

“Wee, keknya bentar lagi ada SK Rektor lahh. Gak kelen tengok itu berita.”

“Kenapa rupanya ?”, Aku berusaha memahami.

“Aduhh Rini, jangan berita rajut aja yang kau tengok. Buka sikit HPmu itu udah banyak berita bertebaran. Bentar lagi mau tutup sekolah sama kampus.”

“Eh, bukan sekolah sama kampus aja lo. Memang si Rafitamara Naibaho ini gak lengkap ngasi pencerahan sama si Rini. Sini ku tunjukkan Rin.”

“Alamak oi, kau kok gitu samaku indah? Nah, ini Rin.” Rafitamara meladeni sambil menunjukkan berita dari Smartphone.

 

Lah apa iya ini yang mungkin menjadi kemelut warga indonesia? Semenjak banyak berita di sosial media menayangkan adanya virus dari Wuhan, China. Ah tapi sepertinya bentar aja liburnya, paling 2 minggu doang, dalam pikirku yang berbicara. Akhirnya semua mahasiswa pulang kampung atas keputusan pihak kampus dan pemerintah karena adanya informasi virus yang sudah menyebar ke seluruh dunia dan masih terpantau jangkitan penyakit ini di lalu lalang imigrasi Indonesia.

Akhirnya, dua minggu berlalu masih bekerja dan belajar hanya dari rumah. Dunia gempar pada saat itu, seakan-akan mau berakhir. Wabah penyakit Corona Virus Desease-19 dari Wuhan, China. Telah memasuki berbagai negri. Tampak mengerikan jika memantaunya dari sosial media. Orang-orang seperti musuh dan tidak bisa disentuh. Semua sekolah, kampus, pasar, dan tempat keramaian di tutup dan tidak ada interaksi fisik. Ini adalah cerita terseram sepanjang sejarah hidupku. Untuk keluar rumah harus punya tameng berupa masker serta handsanitizer untuk melindungi dan mencegah kuman. Semua tempat diberi vaksin, tanpa terkecuali manusianya juga ikut tervaksin. Semua jalan dan berbagai tempat kerumunan sepi dan nihil interaksi. Wah, bener-bener nih dunia udah mau kiamat atau gimana ya? Dalam pikirku.

 

Dua bulan berlalu juga sama seperti hari-hari sebelumnya, bahkan sudah mendekat bulan Ramadhan pun masih sama. Ada rasa bahagia ketika ramadhan mendekat, haru dan sedih ketika mengetahui keadaan tidak seperti biasanya. Hari raya diiringi larangan-larangan untuk menjauhi hal buruk terjadi, ya! Jangkitan virus koronces yang menyebar lewat kerumunan. Sedih sih, tapi mau gimana lagi ya namanya ikhtiar untuk bisa mencegah.

Setelah momen-momen hari besar berlalu, hari tetap berlanjut seperti biasanya. Berita dari medis selalu terpampang nyata di setiap inci langkah kaki. Tidak mudah menjadi mahasiswa yang belajar lewat Smartphone. Malah phone-nya yang smart, mahasiswanya? Wong belajar tatap muka dosen menjelaskan aja banyak gak ngertinya, apalagi belajar di dunia maya. Itu adalah transformasi belajar pertama kali yang pengalihannya cukup membuat pelajar di indonesia merasakan dampaknya. Dari mulai mental, kesehatan, geografis bahkan ekonomi keluarga yang tidak memiliki smartphone sungguh membuat kesulitan belajar menjadi lebih maksimal down-nya. Sangat miris ketika itu, belum lagi bagi pelajar yang tempat tinggalnya jauh dari perkotaan dan harus keluar dari rumah untuk mendapatkan sinyal lebih bagus. Tapi dilema kalau ternyata semua harus dikerjakan dari rumah.

Sampai tiba pada suatu waktu yang sangat diidam-idamkan mahasiswa adalah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Yang ternyata beralih menjadi Kuliah Kerja Nyantai (haha), karena tidak ada nyata-nyatanya. Ini adalah pengalaman yang sangat lucu, dari rumah KKN? WHAT? Dengan setumpuk kerjaan dari mulai individu sampai kelompok yang pada saat itu harus social distancing.

 

B.     Busy is Easy, But!

Hari-hari berlalu tanpa adanya interaksi sosial yang besar lewat dunia nyata. Semakin kesini aku berpikir dan terus menggali hal yang ingin kutemukan dalam diriku. Usia 20 adalah masa yang retan krisis, kalau bahasa kekiniannya itu quarter life crisis.

Quarter life crisis atau krisis seperempat abad adalah periode saat seseorang berusia 18–30 tahun merasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan galau akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang. Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial.

Biasanya orang yang memiliki krisis seperti ini sering mempertayakan eksistensi dan tujuan hidup. Apalagi masa pandemi membuat sosial skill yang mungkin membuat sebagian orang mulai mundur untuk berinteraksi dan lebih menutup diri. Untuk aku sendiri yang memiliki kepribadian INFJ saat tes MBTI yang belum tentu akurat, alias introvert (tertutup). Merasa bahwa, untuk berinteraksi dengan orang-orang itu membutuhkan energi yang besar.

Oleh sebab itu aku menggali apa yang bisa aku manfaatkan dalam diriku untuk dapat berdampak walaupun hanya dari rumah. Dan akhirnya aku mengulang hal yang pernah aku coba mulai. Sesuatu yang aku kerjakan hanya lewat dari rumah. Dengan harapan bisa membuat langkah lebih bermanfaat dan berdampak untuk orang sekitar.

Ditengah kesibukan sebagai mahasiswa, ditengah ruwetnya kondisi ekonomi keluarga pada saat itu. Dan krisis kepercayaan diri memenuhi arah hidup, terlahirlah sebuah gagasan dari kegemaran yang sempat aku tekuni semenjak duduk di bangku SMA.

Dulu, aku belajar satu skill ini dari seorang kakak di pengajian hanya sampai dasar. Setelah itu belajar dari mama, dan baru tau kalau beliau juga mahir. Setelah itu, smartphone yang aku gunakan pada saat sekolah. Aku manfaatkan untuk membuat produk dari skill yang aku coba tekuni alias belajar otodidak dari Youtube. Alhasil, teman-temanku di sekolah ingin dibuatkan dari hasil karya pertamaku.

 

 

 

Setelah aku membuat karya pertama dan  menguasai beberapa teknik merajut. Aku rajin untuk mempromosikan hasil karyaku ke kelas-kelas se-angkatanku untuk lebih dikenal. Pada waktu itu aku membuat nama brand, rfs handcrafted dihiasi dengan satu bahasa juga karena pada waktu itu suka bahasa arab.

 

Lalu ketika duduk di bangku kuliah, aku juga mempromosikan ke kawan-kawan lewat mulut ke mulut.

 

Logo pertama 2016-2020

 

     

   Logo kedua tahun 2020

 

Setelah 5 kali revisi brand logo, akhirnya aku konsisten untuk menggunakan logo simpul jari sebagai nama usaha handcrafted ini. Dan menggunakan warna kuning kunyit seperti di gambar. 

. Simpul menurut KBBI V berarti ikatan tali atau benang. Sedangkan jari adalah ujung tangan atau kaki yang beruas-ruas, lima banyaknya. Jadi kesimpulannya, simpul jari adalah jemari yang mengikat satu kesatuan tali dan benang menjadi sebuah cipta, rasa dan karsa.

 


Membuat nama brand memang membuat pusing tujuh keliling. Apalagi menuntut diri untuk terus berkecimpung dan konsisten dengan pekerjaan yang akan kita lakoni, impikan dan kita harapkan memberi dampak yang baik.

Ditengah pandemi, krisis ekonomi, serta kepercayaan diri yang mulai menurun. Keberanian diri untuk membuka usaha merupakan keputusan yang tidak semua orang sanggup, apalagi resiko menjadi pengusaha adalah harus tahan banting dan mental. Sementara aku sebagai lulusan keguruan, dituntut banyak untuk mengikuti alur dan jalur menjadi seorang pegawai.

Namun, ditengah krisis ini aku bertekad agar kelak usaha yang mulai aku bangun dapat memberikan manfaat untuk orang-orang disekitarku.  Busy is easy, but we must know what we are busy!

 

 

CHAPTER II
MELAWAN ARUS

 

A.    Mulai Koma

Satu tahun simpul jari semenjak 8 Juli 2020, aku mulai lancarkan segala jenis upaya untuk mengembangkan usaha. Mulai dari target pasar yang dijangkau ke mahasiswa, telah terpasarkan dari Aceh hingga ke jawa.

Tibalah saat detik akhir menjadi mahasiswa, mulai menyusun skripsi dan kesana kemari untuk mengejar dosen. Ada saat titik dimana aku hampir menyerah, melihat teman-teman sudah mulai sidang akhir. Sementara aku masih tahap komprehensif dan tetap memproduksi barang yang open custom.

Aku melakukannya sendirian, mulai dari produksi, design poster, olah sosial media, packing dan semua yang berkaitan dengan pengembangan usaha. Termasuk mengikuti serangkaian webinar entrepreneur, kemajuan usaha, kecakapan dalam menarik konsumen, digital marketing hingga bagaimana caranya memperbaiki mindset.

Dibalik aku terus open order dan custom, ada latar belakang yang membuat semua ini tiada akhir dalam masa perjuangan. Walaupun semangat kadang surut, namun aku selalu ingat rasa sakit ketika hidup diambang titik dan koma. Mungkin ini adalah jalan yang harus kutempuh untuk membahagiakan keluarga. Meski kadang aku membutuhkan rehat sejenak untuk berpikir apa yang tengah kulakukan, apakah sudah baik atau belum. Mulai ekonomi keluarga yang semakin terpuruk, dijauhi orang, krisis kepercayaan diri. Satu persatu mental yang kian rapuh, aku bawa ke dalam sebuah karya.

 

“Dan ternyata, rasa sakit membuat seseorang ingin terus berjuang untuk kehidupannya yang lebih baik” –Rini

 

 

C.     Titik Terang

“Kebanyakan orang gagal adalah orang yang tak menyadari betapa dekatnya mereka ke titik sukses saat mereka menyerah”-Thomas Alfa Edison

 

Kata-kata ini tertanam saat aku duduk di bangku sekolah, ketika tiap kali aku gagal mencapai sebuah rencana. Aku yang sudah hampir menyerah, dikembalikan semangat dari kata-kata ini. Karena tidak ada kata sukses bagi orang yang menyerah.

 

Suatu hari aku pernah bercengkrama dengan dua orang sahabat yang kerap aku mengadu padanya tentang persoalan hidup yang tiap kali membuat  tersungkur dan jatuh.

“Rin, menurutmu apa arti bahagia?”, wanita sebaya yang kerap disapa yati.

“Menurutku arti bahagia adalah ketika kita merasa damai, tentram dalam menjalani hidup saat semua masalah datang bertubi-tubi”, Aku menjawab tanpa ragu.

“Kalau begitu, sekarang udah bahagia lagikan?”, gadis minang ini sering menanya kembali setelah aku berhasil menjawab, ia adalah Indah Tanjung.

 

            Aku langsung termenung, dari jawaban yang kupunya atas pertanyaan mereka. Membuatku tersadar bahwa bahagia itu kita yang menciptakan, bukan orang lain, keadaan, situasi kondisi apalagi materi. Sudah 21 tahun hidup dalam silih bergantinya cuaca, aku terus mempertanyakan apakah aku sudah bahagia.

            Semenjak kepergian Alm. Bapak, aku terus teringat nasehat beliau yang selalu terngiang dipikiranku. Saat beliau bertanya terakhir kali.

“Kapan Ujian Nasional”, ini adalah pertanyaan terakhir saat aku mau lulus SMP.

Aku  tak mengira ia akan pergi saat aku masih butuh seorang ayah. Beliau sudah lama sakit Hipertensi kronis dalam kurun waktu 5 tahun yang menjadikannya beberapa kali mengalami stroke. Hingga pada suatu hari ia jatuh secara tiba-tiba dan mengalami step, tak menyadarkan diri selepas sholat manghrib. Aku merasa ada yang berbeda disini, bapakku sudah tertidur tanpa adanya ku dengar lagi suaranya. Pertanyaan itu menjadi kalimat terakhir yang pernah aku kenang.

      Ia adalah seorang bapak yang hebat, passionnya adalah berwirausaha. Seorang entrpreneur yang kukenal mendarah daging dalam diriku. Akhirnya, putri bungsunya ini meneruskan passion yang selama ini ia geluti. Walaupun beberapa usahanya belum memenuhi ekspektasinya selama ia hidup. Tapi perjuangannya dalam membangun usaha, akulah saksi saat ia pandai dalam berinteraksi dengan orang lain. Meyakinkan calon pelanggan, bekerja sama dan mengembangkan usaha keluarga yang pada saat itu adalah grosiran di depan rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Saat kita ingin menunjukkan pencapaian dan membuatnya bangga bahwa anaknya berhasil, menjadi hampa saat mereka tiada. Tidak seperti anak yang lain, berlari sambil diiringi. Tapi bagi mereka yang kehilangan, berlari sambil mengiringi do’a” –Rini

 

 

 

 

 

Salah satu hal yang menurutku bisa membangkitkan semangat adalah menahan rasa sakit dan kehilangan dengan menjumpai titik terang dari sebuah usaha kita menjadikannya terwujud.

 

D.    Try it

Ketika itu, simpul jari sudah berusia 2 tahun berjalan secara konsisten, aku mulai semuanya dari rumah. Karena pandemi masih ada, perkuliahan masih online. Aku menemui dosen ke kampus untuk sebuah tanda tangan hendak sidang akhir. Alhamdulillah, walaupun nambah 1 semester untuk mengejar yang tertinggal.

Akhirnya, 22 februari tepat setelah satu hari kelahiran. Aku bisa menyelesaikan skripsi yang terus menghantui selama setahun ini. Tekanan karena orang-orang disekitar, teman-teman yang sudah pada lulus. Bisa jadi ajang kita mencapai sesuatu, tapi tanpa membuat kita ngos-ngosan. Jangan juga jadikan dan bandingkan garis finish mereka dengan kita. Betapapun itu, ada baiknya kita membuat timeline kita sendiri meski kadang sering bertanya, “aku kapan ya?’.

Pertanyaan itu mendapat jawaban dari lini masa sosial mediaku. Ku dapati beberapa postingan dari akun Bank Indonesia Pematang Siantar, sebelumnya aku sudah pernah mendapati kabar juga dari alumni program ini.

“Horas,Horas, Horas. Pendaftaran Wirausaha Bank Indonesia Pematang Siantar Batch II telah dibuka..”, postingan ini membuatku berambisi ingin mencoba.

Disisi lain, aku juga mendapati postingan Pendaftaran WUBI dari Bank Indonesia Sumut di Medan. Dalam benakku, sepertinya lebih baik kita coba semuanya.

 

 

 

 

 

CHAPTER III
AHA

A.    Buruan, Stok Terbatas!

Posisi sedang di Medan, tepatnya di kos. Aku begitu antusias ingin mencobanya, namun apalah daya karena paket data habis. Akhirnya aku dengan teman satu kos pergi ke sebuah kafe yang ada wifinya untuk mencoba melamar di dua WUBI sekaligus berbincang ria tentang masa depan.

“Semoga berhasil ya Rin, aku tau perjuangan kita ini yang lagi masa-masanya mencari  pengalaman sekaligus menimba masa depan itu gak mudah. Nanti kalau kau sukses, jangan lupa ya samaku.”,ia berbicara sambil menyeruput minuman di bawah lampu remang-remang kuning.

“Sama-sama Fad, kau juga semangat. Kita pasti bisa, sukses bareng-bareng walaupun di tempat yang berbedaa nantinya. Asal jangan putus komunikasi ya fad.”, aku menyebutnya sifad.

Pada saat pendaftaran, aku lebih optimis untuk ikut di WUBI Pematang Siantar. Karena syarat di WUBI Medan, harus berdomisili di Medan. Dan akhirnya aku kirim pendaftaran di kedua WUBI. Aku mencoba keduanya bukan karena ingin menang. Niatku ingin belajar di WUBI adalah memperbaiki mindset/pola pikir ketika aku memutuskan menjadi seorang pengusaha, mempelajari digital marketing, management tim yang baik dan paling terpenting yaitu belajar dan terus belajar. Karena aku paham, kapasitasku untuk terjun di dunia usaha masih sangat minim. Oleh karena itu, permasalahan tersebut aku hadapi dengan terus upgrade dan mencari ilmu. Meski belum wisuda di perkuliahan dan baru lepas sidang.

 

Ini adalah kali pertama kumulai sebuah perjalanan menjadi entrepreneur. Aku terus melantunkan do’a dan usaha, hasilnya terserah pada yang maha Kuasa. Karena setiap kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.

“Tetap terus bertumbuh dan maju, jangan sias-siakan kesempatan. Stok terbatas!” Dalam benakku mengiringi arena perputaran pola pikir di setiap riwayat perjuangan.

 

B.     Bukan Bunga Tidur

    Aku menghela napas hari ini, 24 Maret 2022. Sebuah pesan singkat masuk dari WA Simpul Jari. Saat setelah penundaan pengumuman hasil tes administrasi WUBI Pematang Siantar.

     Entah kenapa keyakinanku untuk masuk di WUBI ini tidak ada kata “pesimis”. Aku selalu ngobrol dengan diri sendiri dan berdiskusi kalau hasil tidak akan khianat dengan proses. Dan akhirnya ketika mindset kita terus ditumbuhkan, akan ada hasil yang memuaskan.

 

 

Selain dari WA Simpul Jari, pengumuman juga datang dari Instagram Bank Indonesia Pematang Siantar.

 

 


 

C.     100 in 2015

Rasa syukurku tak terbendung kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan rezeki ini. Bisa berkumpul dan berkenalan dengan para entrepreneur luar biasa. Dulu pernah mencatat 100 impian di tahun 2015. Menjadi seorang entrepreneur muda, walau kemarin itu nulisnya masih usia remaja dan belum tau bakalan memiliki usaha apa. Alhamdulillah ini adalah salah satu 100 target hidup di no.3 yang dikatakan terwujudkan melalui program WUBI dan insya Allah akan menyandang amanah preneuurs. Bismillah !

 

CHAPTER IV
PENILAIAN

A.    Be Brave!

 

“Hal baik selalu datang dari kebijaksanaan. Hal hebat selalu datang dari keberanian”-anonim

 

2 April 2022---

“Mba Rini, ini rumahnya dimana ya? Coba shareloc mba.” Suara berciri khas logat jawa mengalir dari telepon, pak Kunang selaku Tim Pengembangan UMKM BI.

 

Ini adalah hari Visit Tim BI dan Imuts Pelatih Indonesia untuk melihat lokasi usaha. Sebelumnya aku melihat lokasi usaha yang telah di visit duluan lewat WAG, ada sedikit rasa minder karena lokasi usaha simpul jari yang belum teralokasi. Untuk sekedar papan nama / plang saja tidak terpasang, bahan-bahan dari simpul jari juga masih sedikit dan tim usaha yang masih sendirian kala itu. Namun, tak menyurutkan semangatku untuk tetap optimis.

 

“Seberapa yakin mba diterima di WUBI?”, Suara Coach Marioto Asto masih terngiang di pikiran ketika seleksi Asessment tanggal 2 April di Gedung BI Siantar. Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, teringat sebuah tips dari alumni WUBI Batch I.

 

“Dek, nanti kalau kau masuk tahap seleksi wawancara. Jawab optimis, jangan lenyeh-lenyeh, harus yakin. Gapapa ke-PD an, tapi itu harus. Karena kau mau ditempah jadi pengusaha, bakalan banyak kegiatan di WUBI nanti dek. Intinya yakin dan optimis.” Sebuah tips dari abang alumni WUBI Batch I.

 

“Kalau ditanya seberapa yakin, saya yakin penuh untuk diterima menjadi peserta WUBI Coach. Karena ada masa depan saya di sini.” Jawaban ini adalah spontanitas keyakinan yang membuat kelulusan udah sampai tahap visit ke lokasi usaha.

 

Sewaktu kunjungan dan sedang berlangsung pertanyaan bertubi-tubi datang dari para Coach. Ada Coach Marioto, Coach Wahyu dan Tim BI ada Pak Kunang. Masyaa Allah, simpul jari jadi juga di datangi orang luar biasa. Coach mar bertanya-tanya tentang Bisnis Model Canvas yang pernah aku buat dan Coach Wahyu bertanya seputar Digital Marketing dari Simpul Jari. Alhamdulillah banyak sekali insight yang didapat ketika dikunjungi, walaupun sedikit rasa takut dan tidak percaya diri. Karena kunjungan usaha ini mengalihkan segala yang terpancar dari sisi ownernya dan usahanya. Tapi ada prinsip Doa, usaha, ikhtiar dan tawakkal yang membuatku maju terus dan pantang mundur.

 

 

CHAPTERV
BOOTHCAMP IN NIAGARA

 

A.    Selamat Datang Entrepreneur!

Sebelum langkah esok mulai menapaki jejak pengalaman, aku bersusun untuk perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Dering telepon berbunyi, “Assalamu’alaikum, salam sejahtera Bapak/Ibu sekalian.. Sehubungan dengan proses rekrutmen calon WUBI 2022, kami ucapkan selamat kepada Bapak/Ibu yang dinyatakan lulus tahap asessment, interview dan visit. Adapun perlengkapan yang harus dibawa sebagai berikut:..”, WA Grup WUBI Pematang Siantar. Sepertinya dua tas yang aku bawa akan kurang mawadahi barang bawaan dan akhirnya dua tas ditambah satu berisi produk Simpul Jari memenuhi tangan.

            Rabu, 18 Mei 2022.

Aku beranjak dan menyiapkan kemas untuk berangkat melangkahkan kaki. Pukul 10.00 WIB, berpamitan dengan mamak di rumah. Menuju ke lokasi bersama Bu Misriani (Dodol Widia) dari arah Kisaran yang menjemputku ke rumah bersama Bang Madit (Telur Asin Asap) dan kak Alisa Snack.

            Ada rasa berbeda dan vibrasai yang membara saat menempuh perjalanan menuju babak baru sebagai entrepreneur unggulan di Program Bank Indonesia Pematang Siantar.

            Disepanjang perjalanan menuju Hotel Niagara Parapat. Kami saling bercengkrama di dalam mobil. Sampai tiba di lokasi pukul  01.00 WIB, lanjut makan siang di pekarangan rumput sekitar hotel menghadap luasnya Danau Toba yang tidak pernah bohong dalam memberikan makna Ciptaan Allah. Masyaaa Allah, Nikmat mana lagi yang ku Dustakan!

            Hingga Check in Hotel, tepat sore hari. Nama Rini Febriani Sari bersandingan dengan Ibu Henny Floren Meliala (Roti Ketawa Pelangi), akhirnya dapat teman baru, di suasana yang baru dan adaptasi lingkungan baru juga. Selamat datang wahai aku yang masih minim pengalaman, dari sinilah awal jendela mimpimu terbuka wahai diriku!

B.     First Impression Entrepreneur 

Wajah baru dan vibrasi yang membara membawa suasana di gelanggang Niagara Hotel. Tepat saat sore ke malam hari, wajah-wajah ini membuat semangat di dalam diri kembali bertambah. Bertemu tiga coach yang memunculkan aura positif  dan frekuensi yang membuat senyum merekah, seperti layaknya mentari pagi meyapa dengan sinar yang hangat.

 

Pertemuan pertama ini langsung pembagian tim, dari 30 peserta dibagi menjadi 5 bagian. Wah, simpul jari akhirnya ada di tim 3. Terdiri dari 6 pemeran utama dan kami beri nama dengan tim Cuan. Agar selalu menghasilkan pundi-pundi rupiah setiap harinya.

 

“Disini kita beri nama kelompok masing-masing ya, dengan syarat namanya harus berkaitan dengan ilmu usaha”, kata coach Ade. Akhirnya kami sepakat dan tuntas, Cuan adalah pilihan yang paling menggiurkan untuk diterapkan di tim 3 yang lucu-lucu imut dan berjiwa muda serta menarik. Kenapa menarik? Karena tim 3 ini lengkap, mulai dari yang termuda hingga yang tertua pun ada. Kali ini adalah adaptasi baru yang harus dilakukan dalam berelasi ketika kita ingin usaha lebih maju.

 

Coach Ade juga bilang, malam pertama boothcamp ini adalah pengenalan dan kita sepakati rules selama kegiatan berlangsung. Dan akhirnya, kesepakatan itu berada pada garis gawat darurat. Denda yang bisa membuat roboh rekening dan dompet, dendanya para entrepreneur ketika tidak mematuhi rule kegiatan berlangsung.

Keren ya, baru kali ini mengikuti kegiatan yang berani membuat denda dengan angka begitu menggemaskan. Dari sini aku belajar untuk tidak takut mengambil resiko. Tapi bukan berarti harus melanggar rules yang disepakati.

Malam pertama pertemuan ini sangat membuka pintu hati. Kenapa? Karena yang dibahas adalah mengenai Potensi Diri oleh ketua Coach IMUTS, beliau adalah Coach Marioto Asto.

“Tujuan diciptakannya manusia apa?”, Owner Oemah Tani bertanya kepada seluruh audiens yang menyandang panggilan entrepreneur pada malam itu. Atas pertanyaannya, aku berpikir keras. Seperti dulu guruku di MAN Pematang Siantar bertanya tentang tujuan hidupku di dunia. Dan pertanyaan ini adalah jawaban dari segala persoalan hidup kita.

Benakku menjawab, tujuannya adalah untuk mengabdi kepada Allah. Dan beliau menjelaskan bahwa, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah dan menjadi seorang pemimpin. Ketika sorang manusia paham tujuan hidupnya, maka potensi yang ada dalam dirinya akan menjadi sebuah peluang manfaat untuk beribadah kepada Tuhan. Sehingga, ketika manusia tau letak potensinya dimana. Ia akan dengan mudah memimpin dirinya sendiri sebelum ia memimpin orang lain. Karena sejatinya, orang yang bisa memimpin dirinya sendiri dia telah berhasil merubah dirinya menjadi seorang pemenang.

 

Berarti, potensi diri juga harus diseimbangi dengan kebiasaan apa yang kita lakukan di setiap harinya. Dan kesempurnaan yang Allah titipkan itu ada dihati kita, ketika kita pandai bersyukur atas segala kenikmatan dari-Nya.

Saat itu aku tengah membayangkan bagaimana aku 5 tahun mendatang dari sekarang ketika melihat sebuah kata-kata di buku boothcamp.

“Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan anda lima tahun ke depan. Kecuali dua hal, orang-orang di sekeliling anda dan buku apa yang anda baca" - Charles Jones.

Sambil membayangkan bagaimana kondisiku nanti, aku menguatkan diri. Lakukan yang terbaik saat ini juga, tidak ada kata nanti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seseorang kalau tidak mengintegrasikan mindsetnya, tidak akan menemukan unic talent-nya. Sukses itu mudah, yang penting yakin. Positif thinking, positif feeling. – Coach Mar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Malam ini sudah terasa bakaran semangat dan merubah pola pikir untuk menemukan potensi diri.

“Oke teman-teman, untuk melanjutkan dan mengolah kreatifitas pembukaan WUBI besok. Kita malam ini buat yel-yel perkelompok. Silakan disiapkan sebelum kembali ke kamar dan latihan.” Kata Coach Ade, owner CV Sapo Durin.

“Ayo ges-ges, kita tentukan dulu liriknya. Gladi resik dulu kita ya”, Bang Putra selaku ketua kelompok Cuan. Beliau ini orangnya Fix Ekstrovert (Terbuka), pencair suasana dan jago marketing selling. Kalau ditelusuri beliau ini pernah kerja di bank, nampaknya menguasai ilmu persuasif. Bisa menarik kepercayaan orang hanya dari berbicara.

Dan akhirnya, yel-yel tim cuan sudah jadi dengan menggunakan nada disini senang disana senang.

 

“Disini Cuan

Disana Cuan

Dmana mana hati ku Cuan

Di rumah

Di luar Cuan

Bnyak Cuan hatiku gembira

 

Lalalalalalalalala Cuan

Lalalalalalalalala Cuan

Lalalala Cuan, tetap Cuan 2x

 

Cuan Cuan yes yes yes”

 

Selama gladi resik yel-yel, aku menghabiskan tawa lebih banyak. Karena tingkah dari ketua tim cuan membuat geli dan selalu bisa mencairkan suasana. Jadi kalau dibandingkan dengan bang Ali, yang diam aja ketika gerakan yel-yel nya berlangsung itu membuatku tawa lepas. Kekeluargaan di kelompok cuan pada malam pertama WUBI sudah mulai terasa.

 

C.     Jendela Mulai Terbuka Satu Persatu

Subuh tadi tidak begitu dingin disambut curahan air dingin. Ku lihat Bu Heny sedang pulas tertidur, tapi suaranya menyapa saat aku mengenakan mukenah untuk sholat.

“Sholat Rin?”

“Iya bu, sembahyang dulu. Habis ini kita langsung siap? Untuk ke bawah.”

“Oke, Rin.”

Beliau adalah owner Roti Ketawa Pelangi yang satu kamar denganku. Banyak insight yang didapat, seperti usaha beliau yang sudah mengikuti IKRA dan masih banyak lagi. Aku berpikir, pasti nanti saat di ruangan banyak yang keren dan luar biasa. Yang pasti aku akan lebih banyak belajar dari mereka.

 

Berkaca, melihat penampilan serapi ini. Di bawah sinar lampu kamar hotel. Aku membayangkan diri sedang di atas panggung. 1 microphone yang ada diantara dua bola mataku, ribuan audiens yang siap memasang telinga dan hati, serta lampu panggung dan juga kamera. Aku seperti melihat diriku ada di masa depan. Entah jadi apa, yang bisa kupastikan adalah aku bisa menginspirasai dan memberi banyak manfaat pada orang sekitarku. Walaupun masih ada mental block yang harus ditepis.

Potret diri saat mengenakan jas untuk acara WUBI

 

Potret diri bersama owner kece WUBI sebelum acara dimulai

-----------

Pembukaan program WUBI pun dimulai, semua peserta menyiapkan diri pada masing-masing kelompok. Saatnya tim cuan memperkenalkan diri di atas panggung dan membukanya dengan yel-yel.

Saatnya tim cuan bersiap-siap (sepertinya tim ini yang sedikit heboh ya wkwk)

Setelah memperkenalkan diri, setiap owner memamerkan dan memajang produknya di ruangan. Tepat setelah memperkenalkan diri, aku dipanggil untuk mewakili 3  peserta ke depan dalam penyematan tanda dibukanya program WUBI Batch II. Speechles, menjadi peserta termuda diantara yang lainnya dan baru tau kalau yang termuda. Ada rasa haru dan bangga, sekaligus bertanya dalam diri, “Apa aku bisa dan pantas berada disini?”. Kalau dalam bahasa kekiniannya, overthinking. Selalu bertanya-tanya dalam diri dan menjelaskan bahwa ini adalah amanah untuk memupuk diri setelah program ini selesai.

Saatnya tiap owner berdiri di belakang produk yang sudah dipajang, ini adalah momen yang sangat bersejarah. Bisa memamerkan karya sendiri di depan orang-orang hebat. Masyaa Allah Tabarakallah, bersyukur dikelilingi lingkaran positif.

“Produknya yang mana dek?”, Suara dari sebelah kiri menyapaku.

“Ini bang (sambil menunjuk ke produkku), abang yang mana?”

“Ini dek (menunjuk ke produknya di depan produkku)”

Salah satu entrepreneur WUBI termuda setelahku, pria 24 tahun. Usahanya berupa produk parfum dengan brand Azhar Parfume.

Potret pameran produk entrepreneur WUBI di ruangan Boothcamp :

 

 

 

 

 

 

Rehat sejenak setelah memamerkan produk dan dikunjungi para pendukung UMKM. Dilanjut dengan materi oleh Coach Mar tentang Visi & Misi kehidupan pribadi dan juga usaha.

Sebuah rahasia yang menjadikan faktor kesuksesan seseorang adalah berasal dari dream, visi, misi, goal dan hasil antara gagal atau sukses. Maka sukses adalah hak dan kewajiban setiap individu dalam mencapai tujuan hidupnya. 

Rata-rata 5% orang mempunyai tujuan jelas dan tertlis mempunyai tingkat keberhasilan 97%. 25% punya tujuan tapi tidak tertulis tingkat keberhasilan < 3%. Sementara 70% orang yang tidak mempunyai tujuan, tingkat keberhasilan 0%.

Setiap orang mempunyai mimpi, namun mimpi juga direalisasikan oleh visi yang didukung oleh positif  feeling. Misi yang didukung positif thinking. Kemudian goal tanpa tapi dan tanpa nanti. Tinggal menunggu hasil atas usaha yang telah dilakukan.

        Hari kedua mulai membuka jendelanya, ada kegiatan yang sangat mencengangkan. Pagi ini seluruh peserta dilepas di kota Parapat dengan membawa satu buah KTP (Kartu Tanda Penduduk) tanpa membawa HP, Uang dan benda-benda berharga lainnya. Setiap kelompok harus membawa uang tunai senilai 2 juta ketika kembali ke tempat siang hari nanti.

          Tim Cuan sangat antusias untuk mencari pundi-pundi rupiah. Akhirnya, owner Fourya Snack, insan Bandrek dan Simpul Jari keliling parapat dan ketemu sebuah tempat menjual Ikan dan Kacang Sihobuk.

“Pung, berapa ini? Boleh kami jualkan pung?”

“Untuk apa kalian jualkan nang?”

“Kami Mahasiswa pung, ada PKL kewirausahaan dari BI. Boleh ya Pung?

“Oiya nang, bolehlah. Ikannya yang kecil 10 ribu, yang sedang 15 ribu, yang besar 20 ribu. Kacangnya 10 ribu. Bebaslah kalian ya menjualnya, yang penting harganya uda opung buat. Kalian kalok mau jualan jangan ke sana ya, sepi itu. Lagi sepi tamu kita minggu ini.”

“Oke siap Opung”

            Keliling sampai 2 jam lebih tapi tak ada yang beli.

“Wee gak ada yang belik.”, Kak alif bersedih.

“Sabar dulu alifia, kita masih usaha ini.”, Bang Ali menenangkan.

“Udah yok kita balekkan aja. Ikut Bu Nining di Kede

Kopi bantu buk rini sama bang putra juga.”, aku mengusulkan.

“Pakk, bukk! Ikannya ini asin enak ikan parapat ini pak buk. Kacangnya juga enak ini ayok buk dicoba kacang sihobuk termantap.” Kak Alif berseru.

“Lah, aku orang Parapat nang. Salah nawar kalian bahh.”

Kami terkekeh karena salah sasaran, tak sesuai target. Akhirnya, kami kembali ke pangkuan ibu. Buk nining, buk Rini dan bang Putra sedang kerja di Kede Kopi milik Bagus Trans. Mereka punya toko pakaian, hotel, transportasi dan usaha lainnya. Karena kami datang, akhirnya kami bantu jualan dan bersih-bersih toko.

 

                        Alhamdulillah, akhirnya setelah selesai kami digaji 20.000/orang. Lanjut dari penjualan ikan tadi dapat 50.000. Beli makan nasi untuk kembali ke Hotel Niagara.

                                    Setelah kembali ke ruangan, alhamdulillah tim cuan membawa uang senilai 280.000 dan menjadi juara kedua. Mendapatkan reward jajanan yang diambil di depan dengan berlomba pula. Masyaa Allah, seru banget hari itu.

 

D.    Perjalanan Panjang Untuk Waktu Singkat

Hari terakhir Boothcamp mempunyai kesan tersendiri. Mulai dari merespon bentuk bahagia, menciptakan peluang untuk bertumbuh dan renungan diri kita buat menikmati hidup.

Hari ini ada tanda tangan dari para entrepreneur hebat dan coach yang luar biasa. Empat hari tiga malam yang menciptakan kesan dan pesan yang berwarna. Adalah suatu keajaiban bertemu dengan orang-orang yang punya alur sefrekuensi. Karena dengan siapa kita duduk pada hari ini akan menentukan siapa kita lima tahun mendatang.

            “Rin, ibu pulang sama Andri. Mobilnya kosong. Coba Rini bilang sama dia siapa tau masih bisa”, Bu Misriani.

“oke siap bu”, aku membalas.

 

            Akhirnya aku ikut bersama rombongan bang Andri, Bu Misriani dan Kak dela Kolang Kaling. Awalnya, karena pulang sudah terlalu larut sore. Kami beralih putar haluan mengantar kak Dela ke Simantin, dan sampai di siantar sudah terlalu larut malam. Akhirnya memutuskan mengantar bu Misriani ke Kisaran. Perjalanan pulang ke rumah hampir satu harian. Tapi sangat berterima kasih kepada Bang Andri yang sudah rela waktu dan tenaganya mengantar kami sampai ke rumah. Semoga Allah balas kebaikannya dan dilancarkan semua usahanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

-Ketika kita mulai mengeluh tentang hidup, pastikan bahwa kita

 

 

 

 

 

 

 


 

CHAPTER VI
PENDAMPINGAN

A.    Pertumbuhan dan Perubahan

Selama proses pendampingan berlangsung, ada hal yang membuatku tertegun lagi dan lagi soal keyakinan dan pantang menyerah. Dari awal pendampingan pertama, mulai dari materi merubah mindset, kebiasaan, dan pengembangan owner pribadi.

Hingga belajar foto produk, Find AHA Business, Business Model Canvas, HPP (Harga Pokok Produksi), Business Plan, Five Ways Marketing, Sales Activity & Maketing Calender, setting sosial media, marketplace dan masih banyak lagi materi selama pendampingan. Yang mana kesemuanya itu memberikan feed back, mengajarkan untuk konsisten, lebih disiplin, serta memberikan banyak insight untuk pengembangan bisnis. Dan yang paling membuat kita lebih bersemangat adalah bertemu orang-orang bervibrasi positif juga satu frekuensi di WUBI. Yang mana semuanya dapat menambah semangat dalam menjalankan bisnis agar naik kelas.

Untuk simpul jari sendiri, selama di dampingi oleh IMUTS Pelatih Indonesia mengalami banyak pertumbuhan dan perubahan meski ketika suatu usaha naik level, akan ada banyak ujian dan cobaan yang naik level juga tingkat uji cobanya. Mulai dari sisi keluarga, lingkungan, bahkan diri sendiri. Tapi semuanya tak menyurutkan untuk lebih scale up agar optimal dan maksimal. Meski dalam kaitannya, membuka usaha keterampilan ini membutuhkan waktu yang lama hanya dalam menciptakan satu produk.

Memikirkan modal waktu yang terbuang lebih banyak, justru memupuk dan mengembangkan rasa sabar ini lebih luas. Bagaimana seni bekerja, dari situlah prinsip filosofi merajut dan menyulam bergerak.

Hingga suatu ketika tanpa disangka-sangka, ada beberapa kali dalam sebulan simpul jari menerima orderan banyak dari customer yang tanpa ditawarkan dan dipromosikan saat orderan mulai sepi. Namun, energi positif (Positif Thinking dan Positif Feeling) dalam menjalani bisnis yang diajarkan oleh para Coach IMUTS, membuahkan hasil dan mendatangkan nilai.

Seperti yang dikatakan Coach Mar,”Kesuksesan itu datang dari pemantasan, bukan pengejaran. Dari hati yang tenang dan bahagia”. Ini adalah salah satu magic word yang bersumber dari alam bawah sadar, hingga terus untuk melangkah dan pantang menyerah.

Disisi lain, Coach Ade juga pernah berkata, “Jualan itu transfer keyakinan, apa yang membuat produk kita layak dibayar dengan harga 300rb?”. Dari sini simpul jari mencoba berpikir berulang kali ketika pernah berjualan secara langsung tatap muka dengan konsumen. Ada rasa ragu menawarkan produk dengan price yang sangat tinggi. Dan ternyata semua itu terjawab ketika suatu usaha sudah paham akan value proposition yang pernah terstruktur saat belajar Business Model Canvas. Dan lagi, semua tentang keyakinan juga pantang menyerah untuk selalu upgrade ilmu. Karena Trouble in My Business itu diatasi dengan memperkaya ilmu dan terus belajar.

Simpul jari juga mengadakan kelas rajut. Ketika menyelenggarakan sendiri dan membuka kelas, sedikit sekali yang ikut. Tapi tanpa disangka-sangka lagi, suatu pagi ditelfon bunyi berdering.

“Halo, dengan Simpul Jari? Mba, bisa ngajarin rajut sama ibu-ibu Persit di Korem? Sekitar 20 orang gitu mba.”

Tanpa tapi dan tanpa nanti, “Bisa Bu” meluncur dari pembicaraan. Dan pada akhirnya ini adalah kali pertama workshop merajut Simpul Jari bersama tim mengajari ibu-ibu merajut tulip dalam satu harian. Rasa syukur saya tak terendung kala itu. Meski ada rasa takut dan overthinking berlebihan masuk ke dalam diri. Takut apa? Takut tidak bisa ibu-ibu itu paham dengan pelatihan rajut, takut salah, takut penyampaiannya tidak bagus.

Namun, semua itu aku tepis dengan kata, “Mumpung masih muda, kapan lagi bisa berkontribusi?. Mumpung sehat badan dan waktu, kapan lagi ?, bukannya impianmu bisa mengajar rajut dan membuka workshop pelatihan? Ayo, kamu bisa.” Dengan langkah bismillah dan pasti aku dan salah satu Tim Creative bernama Kak Hesti memulai workshop perdana bersama ibu-ibu Persit di Korem.

 

 

Sampai saat ini, Simpul Jari terus yakin dan berusaha bahwa setiap kesulitan ada kemudahan. Dan semua kemenangan besar itu diciptakan dari memulai sesuatu yang selama ini kita takutkan.

 

B.     Bakalan Missing Every Moment

Sudah akhir pendampingan, akhirnya ini adalah buku yang aku buat selama simpul jari di dampingi. Buku ini adalah salah satu Homefun terberat bagi seluruh peserta mungkin ya, tapi dari buku ini aku banyak belajar tentang konsisten. Dulu suka menulis dan menggeluti dunia kepenulisan sejak SMA-Kuliah, namun rasa sabar dalam menulis lebih besar ketimbang rasa sabar saat merajut. Dan berkecimpung di organisasi kepenulisan di Medan yaitu FLP (Forum Lingkar Pena) Medan dan diamanahkan menjadi Kadiv Humas beberapa saat saja. Dan sudah menerbitkan satu buku Antologi Cerpen kala itu. Namun, karena rajut lebih menggiurkan, jadi beralih ke rajut merajut.

Simpul Jari akan banyak rindunya dengan program WUBI, pelatihan bisnis pertama kali yang sudah menggetarkan jiwa. Hingga duu pernah beberapa kali aku pernah mengikuti seminar dan webinar bisnis, dan yang paling hangat masuk ke dalam hati adalah program WUBI. Terima kasih Bank Indonesia dan IMUTS Pelatih Indonesia. Simpul Jari akan selalu terus bertumbuh dan memperjuangkan mimpi yang pernah dipresentasikan saat Booth Camp dan ditulis dalam selmbar karton putih berjudul “MY DREAM BOARD”.

POTRET DI SETIAP MOMENT

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bismillahirrahmanirrahim……

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rini Febriani Sari

(Owner Simpul Jari)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A Finger Knot Journey

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Penghargaan hanyalah milik orang yang pertama memulai, walaupun orang yang datang kemudian dapat melakukannya lebih baik.” –Tsaurah Tunis-

 

“Kamu tidak harus hebat untuk memulai, tapi kamu harus memulai untuk menjadi orang hebat” –Zig Ziglar-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKATA

 

            Pertama dan yang paling utama, saya ucapkan syukur kepada Allah yang telah memberikan kesehatan yang melimpah, kesempatan untuk memberi manfaat, serta nikmat akal yang begitu dahsyat.

            Tak lupa juga saya ucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad yang telah memberikan teladan kepada umatnya. Dengan teladannya, saya nulis buku ini dengan penuh optimis.

            Terima kasih saya ucapkan kepada ibunda saya yang telah memberikan dukungannya hingga pada tahap ini. Yang selalu meluruskan saya ketika hilang arah, selalu memberikan masukan ketika hampa dan selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Doa-doa yang senantiasa beliau langitkan istiqamah dan ikhlas akhirnya mampu membawa saya sampai sejauh ini. I love you so much!

            Terima kasih saya ucapkan kepada Bank Indonesia Pematang Siantar yang telah menaungi UMKM dari Sisi Batas Labuhan dalam pengembangan usaha dengan menggelar program yang sangat bermanfaat WUBI.

            Terima kasih kepada Tim IMUTS Pelatih Indonesia, sebagai coach pengembangan owner dan usaha. Saya ucapkan terima kasih atas segala ilmu yang diberikan selama pedampingan. Semoga Coach semua sehat selalu, berkah langkahnya dan diberi kekuatan untuk menyebarkan ilmunya. Suatu hari saya bakalan rindu masa-masa  di dampingi, belajar selama 9 kali pertemuan dan masa-masa indah yang pernah terjalin selama tugas-tugas dari tim IMUTS.

            Terima kasih untuk seluruh Entrepreneur hebat di WUBI Pematang Siantar Batch II, akan ada masa saya sangat rindu. Pas nulis kata pengantar ini saja sudah merasakan aroma rindu atas kenangan yang pernah terjalin selama belajar bersama. Sangat menginspirasi saya sebagai peserta termuda, single pula, dan memotivasi saya untuk maju, serta berkarya lebih besar lagi.

            Dan terimakasih untuk semua yang turut andil kepada simpul jari, sahabat dan customer tersayang. Telah memberikan masukan juga untuk simpul jari agar lebih maju dan upgrade.

            Sekian saya ucapkan terima kasih dan maaf bila ada tutur kata dalam penyampaian di buku ini yang kurang berkenan.

 

Pematang Siantar, 24 November 2022

Salam Hormat

 

 

Rini Febriani Sari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

PRAKATA.. iv

DAFTAR ISI. vii

PERAN BI DI PROGRAM WUBI. 1

CHAPTER I ARAH LANGKAH.. 6

A.   Bangku Kuliah. 6

B.    Busy is Easy, But! 10

CHAPTER II MELAWAN ARUS. 17

A.   Mulai Koma. 17

C.    Titik Terang. 19

D.    Try it 23

CHAPTER III AHA.. 25

A.   Buruan, Stok Terbatas! 25

B.    Bukan Bunga Tidur 28

C.    100 in 2015. 30

CHAPTER IV PENILAIAN.. 31

A.   Be Brave! 31

CHAPTERV BOOTHCAMP IN NIAGARA.. 34

A.   Selamat Datang Entrepreneur! 34

B.    First Impression Entrepreneur 36

C.    Jendela Mulai Terbuka Satu Persatu. 44

D.   Perjalanan Panjang Untuk Waktu Singkat 54

CHAPTER VI  PENDAMPINGAN.. 58

A.   Pertumbuhan dan Perubahan. 58

B.    Bakalan Missing Every Moment 65

POTRET DI SETIAP MOMENT. 67

 

 

 

 


 


PERAN BI DI PROGRAM WUBI

 

Hadirnya Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Republik Indonesia, memberikan sejumlah program yang membantu menstabilkan ekonomi masyarakat. Terutama fokus pengembangan UMKM,  karena sangat berpengaruh terhadap sektor perekonomian daerah.

Peran BI untuk mendukung UMKM sangat berupaya dalam pengendalian dan pelatihan UMKM yang mencakup seluruh aspek, ada di bidang keuangan, legalitas, pemasaran. Sehingga program WUBI dalam hal ini memajukan perekonomian yang diharapkan UMKM yang dilatih bisa sukses.

Mulai dari standarisasi, packaging, go digital, manajemen usaha, pola pikir dan kualitas usaha yang go ekspor. Bank indonesia juga melakukan pendekatan untuk memotivasi UMKM agar mampu berinovasi dan naik kelas. Sehingga UMKM tersebut bisa berdaya saing. Yang mana produknya sudah berinovasi dalam bentuk kemasannya, tampilan, design, platform digital dan standard yang memenuhi kualitas UMKM naik kelas.

Nah, di program WUBI inilah para UMKM dari masing-masing daerahnya akan dipilih dengan tahapan seleksi. Mulai dari pendaftaran, administrasi, asessment (wawancara) dan visit (kunjungan lokasi usaha). Setelah lulus dari tahapan tersebut, akan dipilih beberapa peserta dari kebijakan Kpw BI masing-masing dari tiap daerah. Lalu proses tersebut berlanjut pada tahap Boothcamp dan pedampingan hingga wisuda (Mini University Preneurs).

Dengan tujuan, (1) Memperkuat efektivitas kebijakan moneter dan bauran kebijakan BI untuk mencapai stabilitas nilai rupiah; (2) Memperkuat sinergi kebijakan BI dengan kebijakan fiskal dan reformasi struktural pemerintah dalam mengelola defisit transaksi berjalan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; (3) Memperkuat kebijakan BI yang bersinergi dengan kebijakan pemerintah dan OJK untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan digital. (sumber: bi.go.id)

Oleh karena itu, peran Bank Indonesia sangat berpengaruh dalam mencapai keseimbangan pendapatan negara yang berasal dari UMKM. Maka, dengan adanya program WUBI ini membantu UMKM naik kelas sebagai dukungan terhadap sinergi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

 

-Rini Febriani Sari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada pagi dalam setiap waktu manusia,

Gemerincing suaranya senyap dan sunyi,

Udara bertebaran dengan bebas disana sini,

Embun meliputi alam teresapi,

 

Aku berbisik pada bumi;

Bilamana sakit yang tengah dialami;

Bilamana patah arang meliputi;

Bahkan hilang telah menghampiri;

Aku, takkan berakhir disini

Takkan kubiarkan aku tiada tanpa esensi

 

Ku buka mataku dengan perlahan pasti,

Ku tegakkan pundak tanpa pasi,

Ku berkata pada dunia dengan berani,

Aku disini;

Hidup;

Dan bersyukur,

Siap untuk segala kemungkinan yang terjadi.

 

-Pematang Siantar, 24 November 2022

 

 

 

 

 

 

Gambar pembuka bab I


 

CHAPTER I
ARAH LANGKAH

 

A.    Bangku Kuliah

            Di sepanjang koridor pelataran kampus, semilir angin berhembus mengenai ranting dan dedaunan di sambut desir pasir melambai ke arahku. Menyuguhkan kilauan terpaan sengatan matahari yang datang menemui pandangan, menjadi pergulatan kaki-kaki yang berlarian antara pulang dan pergi. Sekelebat suara berdering di daun telinga, meramaikan beberapa rasa yang hampir tak terarah.

 

“Wee, keknya bentar lagi ada SK Rektor lahh. Gak kelen tengok itu berita.”

“Kenapa rupanya ?”, Aku berusaha memahami.

“Aduhh Rini, jangan berita rajut aja yang kau tengok. Buka sikit HPmu itu udah banyak berita bertebaran. Bentar lagi mau tutup sekolah sama kampus.”

“Eh, bukan sekolah sama kampus aja lo. Memang si Rafitamara Naibaho ini gak lengkap ngasi pencerahan sama si Rini. Sini ku tunjukkan Rin.”

“Alamak oi, kau kok gitu samaku indah? Nah, ini Rin.” Rafitamara meladeni sambil menunjukkan berita dari Smartphone.

 

Lah apa iya ini yang mungkin menjadi kemelut warga indonesia? Semenjak banyak berita di sosial media menayangkan adanya virus dari Wuhan, China. Ah tapi sepertinya bentar aja liburnya, paling 2 minggu doang, dalam pikirku yang berbicara. Akhirnya semua mahasiswa pulang kampung atas keputusan pihak kampus dan pemerintah karena adanya informasi virus yang sudah menyebar ke seluruh dunia dan masih terpantau jangkitan penyakit ini di lalu lalang imigrasi Indonesia.

Akhirnya, dua minggu berlalu masih bekerja dan belajar hanya dari rumah. Dunia gempar pada saat itu, seakan-akan mau berakhir. Wabah penyakit Corona Virus Desease-19 dari Wuhan, China. Telah memasuki berbagai negri. Tampak mengerikan jika memantaunya dari sosial media. Orang-orang seperti musuh dan tidak bisa disentuh. Semua sekolah, kampus, pasar, dan tempat keramaian di tutup dan tidak ada interaksi fisik. Ini adalah cerita terseram sepanjang sejarah hidupku. Untuk keluar rumah harus punya tameng berupa masker serta handsanitizer untuk melindungi dan mencegah kuman. Semua tempat diberi vaksin, tanpa terkecuali manusianya juga ikut tervaksin. Semua jalan dan berbagai tempat kerumunan sepi dan nihil interaksi. Wah, bener-bener nih dunia udah mau kiamat atau gimana ya? Dalam pikirku.

 

Dua bulan berlalu juga sama seperti hari-hari sebelumnya, bahkan sudah mendekat bulan Ramadhan pun masih sama. Ada rasa bahagia ketika ramadhan mendekat, haru dan sedih ketika mengetahui keadaan tidak seperti biasanya. Hari raya diiringi larangan-larangan untuk menjauhi hal buruk terjadi, ya! Jangkitan virus koronces yang menyebar lewat kerumunan. Sedih sih, tapi mau gimana lagi ya namanya ikhtiar untuk bisa mencegah.

Setelah momen-momen hari besar berlalu, hari tetap berlanjut seperti biasanya. Berita dari medis selalu terpampang nyata di setiap inci langkah kaki. Tidak mudah menjadi mahasiswa yang belajar lewat Smartphone. Malah phone-nya yang smart, mahasiswanya? Wong belajar tatap muka dosen menjelaskan aja banyak gak ngertinya, apalagi belajar di dunia maya. Itu adalah transformasi belajar pertama kali yang pengalihannya cukup membuat pelajar di indonesia merasakan dampaknya. Dari mulai mental, kesehatan, geografis bahkan ekonomi keluarga yang tidak memiliki smartphone sungguh membuat kesulitan belajar menjadi lebih maksimal down-nya. Sangat miris ketika itu, belum lagi bagi pelajar yang tempat tinggalnya jauh dari perkotaan dan harus keluar dari rumah untuk mendapatkan sinyal lebih bagus. Tapi dilema kalau ternyata semua harus dikerjakan dari rumah.

Sampai tiba pada suatu waktu yang sangat diidam-idamkan mahasiswa adalah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Yang ternyata beralih menjadi Kuliah Kerja Nyantai (haha), karena tidak ada nyata-nyatanya. Ini adalah pengalaman yang sangat lucu, dari rumah KKN? WHAT? Dengan setumpuk kerjaan dari mulai individu sampai kelompok yang pada saat itu harus social distancing.

 

B.     Busy is Easy, But!

Hari-hari berlalu tanpa adanya interaksi sosial yang besar lewat dunia nyata. Semakin kesini aku berpikir dan terus menggali hal yang ingin kutemukan dalam diriku. Usia 20 adalah masa yang retan krisis, kalau bahasa kekiniannya itu quarter life crisis.

Quarter life crisis atau krisis seperempat abad adalah periode saat seseorang berusia 18–30 tahun merasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan galau akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang. Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial.

Biasanya orang yang memiliki krisis seperti ini sering mempertayakan eksistensi dan tujuan hidup. Apalagi masa pandemi membuat sosial skill yang mungkin membuat sebagian orang mulai mundur untuk berinteraksi dan lebih menutup diri. Untuk aku sendiri yang memiliki kepribadian INFJ saat tes MBTI yang belum tentu akurat, alias introvert (tertutup). Merasa bahwa, untuk berinteraksi dengan orang-orang itu membutuhkan energi yang besar.

Oleh sebab itu aku menggali apa yang bisa aku manfaatkan dalam diriku untuk dapat berdampak walaupun hanya dari rumah. Dan akhirnya aku mengulang hal yang pernah aku coba mulai. Sesuatu yang aku kerjakan hanya lewat dari rumah. Dengan harapan bisa membuat langkah lebih bermanfaat dan berdampak untuk orang sekitar.

Ditengah kesibukan sebagai mahasiswa, ditengah ruwetnya kondisi ekonomi keluarga pada saat itu. Dan krisis kepercayaan diri memenuhi arah hidup, terlahirlah sebuah gagasan dari kegemaran yang sempat aku tekuni semenjak duduk di bangku SMA.

Dulu, aku belajar satu skill ini dari seorang kakak di pengajian hanya sampai dasar. Setelah itu belajar dari mama, dan baru tau kalau beliau juga mahir. Setelah itu, smartphone yang aku gunakan pada saat sekolah. Aku manfaatkan untuk membuat produk dari skill yang aku coba tekuni alias belajar otodidak dari Youtube. Alhasil, teman-temanku di sekolah ingin dibuatkan dari hasil karya pertamaku.

 

 

 

Setelah aku membuat karya pertama dan  menguasai beberapa teknik merajut. Aku rajin untuk mempromosikan hasil karyaku ke kelas-kelas se-angkatanku untuk lebih dikenal. Pada waktu itu aku membuat nama brand, rfs handcrafted dihiasi dengan satu bahasa juga karena pada waktu itu suka bahasa arab.

 

Lalu ketika duduk di bangku kuliah, aku juga mempromosikan ke kawan-kawan lewat mulut ke mulut.

 

Logo pertama 2016-2020

 

     

   Logo kedua tahun 2020

 

Setelah 5 kali revisi brand logo, akhirnya aku konsisten untuk menggunakan logo simpul jari sebagai nama usaha handcrafted ini. Dan menggunakan warna kuning kunyit seperti di gambar. 

. Simpul menurut KBBI V berarti ikatan tali atau benang. Sedangkan jari adalah ujung tangan atau kaki yang beruas-ruas, lima banyaknya. Jadi kesimpulannya, simpul jari adalah jemari yang mengikat satu kesatuan tali dan benang menjadi sebuah cipta, rasa dan karsa.

 


Membuat nama brand memang membuat pusing tujuh keliling. Apalagi menuntut diri untuk terus berkecimpung dan konsisten dengan pekerjaan yang akan kita lakoni, impikan dan kita harapkan memberi dampak yang baik.

Ditengah pandemi, krisis ekonomi, serta kepercayaan diri yang mulai menurun. Keberanian diri untuk membuka usaha merupakan keputusan yang tidak semua orang sanggup, apalagi resiko menjadi pengusaha adalah harus tahan banting dan mental. Sementara aku sebagai lulusan keguruan, dituntut banyak untuk mengikuti alur dan jalur menjadi seorang pegawai.

Namun, ditengah krisis ini aku bertekad agar kelak usaha yang mulai aku bangun dapat memberikan manfaat untuk orang-orang disekitarku.  Busy is easy, but we must know what we are busy!

 

 

CHAPTER II
MELAWAN ARUS

 

A.    Mulai Koma

Satu tahun simpul jari semenjak 8 Juli 2020, aku mulai lancarkan segala jenis upaya untuk mengembangkan usaha. Mulai dari target pasar yang dijangkau ke mahasiswa, telah terpasarkan dari Aceh hingga ke jawa.

Tibalah saat detik akhir menjadi mahasiswa, mulai menyusun skripsi dan kesana kemari untuk mengejar dosen. Ada saat titik dimana aku hampir menyerah, melihat teman-teman sudah mulai sidang akhir. Sementara aku masih tahap komprehensif dan tetap memproduksi barang yang open custom.

Aku melakukannya sendirian, mulai dari produksi, design poster, olah sosial media, packing dan semua yang berkaitan dengan pengembangan usaha. Termasuk mengikuti serangkaian webinar entrepreneur, kemajuan usaha, kecakapan dalam menarik konsumen, digital marketing hingga bagaimana caranya memperbaiki mindset.

Dibalik aku terus open order dan custom, ada latar belakang yang membuat semua ini tiada akhir dalam masa perjuangan. Walaupun semangat kadang surut, namun aku selalu ingat rasa sakit ketika hidup diambang titik dan koma. Mungkin ini adalah jalan yang harus kutempuh untuk membahagiakan keluarga. Meski kadang aku membutuhkan rehat sejenak untuk berpikir apa yang tengah kulakukan, apakah sudah baik atau belum. Mulai ekonomi keluarga yang semakin terpuruk, dijauhi orang, krisis kepercayaan diri. Satu persatu mental yang kian rapuh, aku bawa ke dalam sebuah karya.

 

“Dan ternyata, rasa sakit membuat seseorang ingin terus berjuang untuk kehidupannya yang lebih baik” –Rini

 

 

C.     Titik Terang

“Kebanyakan orang gagal adalah orang yang tak menyadari betapa dekatnya mereka ke titik sukses saat mereka menyerah”-Thomas Alfa Edison

 

Kata-kata ini tertanam saat aku duduk di bangku sekolah, ketika tiap kali aku gagal mencapai sebuah rencana. Aku yang sudah hampir menyerah, dikembalikan semangat dari kata-kata ini. Karena tidak ada kata sukses bagi orang yang menyerah.

 

Suatu hari aku pernah bercengkrama dengan dua orang sahabat yang kerap aku mengadu padanya tentang persoalan hidup yang tiap kali membuat  tersungkur dan jatuh.

“Rin, menurutmu apa arti bahagia?”, wanita sebaya yang kerap disapa yati.

“Menurutku arti bahagia adalah ketika kita merasa damai, tentram dalam menjalani hidup saat semua masalah datang bertubi-tubi”, Aku menjawab tanpa ragu.

“Kalau begitu, sekarang udah bahagia lagikan?”, gadis minang ini sering menanya kembali setelah aku berhasil menjawab, ia adalah Indah Tanjung.

 

            Aku langsung termenung, dari jawaban yang kupunya atas pertanyaan mereka. Membuatku tersadar bahwa bahagia itu kita yang menciptakan, bukan orang lain, keadaan, situasi kondisi apalagi materi. Sudah 21 tahun hidup dalam silih bergantinya cuaca, aku terus mempertanyakan apakah aku sudah bahagia.

            Semenjak kepergian Alm. Bapak, aku terus teringat nasehat beliau yang selalu terngiang dipikiranku. Saat beliau bertanya terakhir kali.

“Kapan Ujian Nasional”, ini adalah pertanyaan terakhir saat aku mau lulus SMP.

Aku  tak mengira ia akan pergi saat aku masih butuh seorang ayah. Beliau sudah lama sakit Hipertensi kronis dalam kurun waktu 5 tahun yang menjadikannya beberapa kali mengalami stroke. Hingga pada suatu hari ia jatuh secara tiba-tiba dan mengalami step, tak menyadarkan diri selepas sholat manghrib. Aku merasa ada yang berbeda disini, bapakku sudah tertidur tanpa adanya ku dengar lagi suaranya. Pertanyaan itu menjadi kalimat terakhir yang pernah aku kenang.

      Ia adalah seorang bapak yang hebat, passionnya adalah berwirausaha. Seorang entrpreneur yang kukenal mendarah daging dalam diriku. Akhirnya, putri bungsunya ini meneruskan passion yang selama ini ia geluti. Walaupun beberapa usahanya belum memenuhi ekspektasinya selama ia hidup. Tapi perjuangannya dalam membangun usaha, akulah saksi saat ia pandai dalam berinteraksi dengan orang lain. Meyakinkan calon pelanggan, bekerja sama dan mengembangkan usaha keluarga yang pada saat itu adalah grosiran di depan rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Saat kita ingin menunjukkan pencapaian dan membuatnya bangga bahwa anaknya berhasil, menjadi hampa saat mereka tiada. Tidak seperti anak yang lain, berlari sambil diiringi. Tapi bagi mereka yang kehilangan, berlari sambil mengiringi do’a” –Rini

 

 

 

 

 

Salah satu hal yang menurutku bisa membangkitkan semangat adalah menahan rasa sakit dan kehilangan dengan menjumpai titik terang dari sebuah usaha kita menjadikannya terwujud.

 

D.    Try it

Ketika itu, simpul jari sudah berusia 2 tahun berjalan secara konsisten, aku mulai semuanya dari rumah. Karena pandemi masih ada, perkuliahan masih online. Aku menemui dosen ke kampus untuk sebuah tanda tangan hendak sidang akhir. Alhamdulillah, walaupun nambah 1 semester untuk mengejar yang tertinggal.

Akhirnya, 22 februari tepat setelah satu hari kelahiran. Aku bisa menyelesaikan skripsi yang terus menghantui selama setahun ini. Tekanan karena orang-orang disekitar, teman-teman yang sudah pada lulus. Bisa jadi ajang kita mencapai sesuatu, tapi tanpa membuat kita ngos-ngosan. Jangan juga jadikan dan bandingkan garis finish mereka dengan kita. Betapapun itu, ada baiknya kita membuat timeline kita sendiri meski kadang sering bertanya, “aku kapan ya?’.

Pertanyaan itu mendapat jawaban dari lini masa sosial mediaku. Ku dapati beberapa postingan dari akun Bank Indonesia Pematang Siantar, sebelumnya aku sudah pernah mendapati kabar juga dari alumni program ini.

“Horas,Horas, Horas. Pendaftaran Wirausaha Bank Indonesia Pematang Siantar Batch II telah dibuka..”, postingan ini membuatku berambisi ingin mencoba.

Disisi lain, aku juga mendapati postingan Pendaftaran WUBI dari Bank Indonesia Sumut di Medan. Dalam benakku, sepertinya lebih baik kita coba semuanya.

 

 

 

 

 

CHAPTER III
AHA

A.    Buruan, Stok Terbatas!

Posisi sedang di Medan, tepatnya di kos. Aku begitu antusias ingin mencobanya, namun apalah daya karena paket data habis. Akhirnya aku dengan teman satu kos pergi ke sebuah kafe yang ada wifinya untuk mencoba melamar di dua WUBI sekaligus berbincang ria tentang masa depan.

“Semoga berhasil ya Rin, aku tau perjuangan kita ini yang lagi masa-masanya mencari  pengalaman sekaligus menimba masa depan itu gak mudah. Nanti kalau kau sukses, jangan lupa ya samaku.”,ia berbicara sambil menyeruput minuman di bawah lampu remang-remang kuning.

“Sama-sama Fad, kau juga semangat. Kita pasti bisa, sukses bareng-bareng walaupun di tempat yang berbedaa nantinya. Asal jangan putus komunikasi ya fad.”, aku menyebutnya sifad.

Pada saat pendaftaran, aku lebih optimis untuk ikut di WUBI Pematang Siantar. Karena syarat di WUBI Medan, harus berdomisili di Medan. Dan akhirnya aku kirim pendaftaran di kedua WUBI. Aku mencoba keduanya bukan karena ingin menang. Niatku ingin belajar di WUBI adalah memperbaiki mindset/pola pikir ketika aku memutuskan menjadi seorang pengusaha, mempelajari digital marketing, management tim yang baik dan paling terpenting yaitu belajar dan terus belajar. Karena aku paham, kapasitasku untuk terjun di dunia usaha masih sangat minim. Oleh karena itu, permasalahan tersebut aku hadapi dengan terus upgrade dan mencari ilmu. Meski belum wisuda di perkuliahan dan baru lepas sidang.

 

Ini adalah kali pertama kumulai sebuah perjalanan menjadi entrepreneur. Aku terus melantunkan do’a dan usaha, hasilnya terserah pada yang maha Kuasa. Karena setiap kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.

“Tetap terus bertumbuh dan maju, jangan sias-siakan kesempatan. Stok terbatas!” Dalam benakku mengiringi arena perputaran pola pikir di setiap riwayat perjuangan.

 

B.     Bukan Bunga Tidur

    Aku menghela napas hari ini, 24 Maret 2022. Sebuah pesan singkat masuk dari WA Simpul Jari. Saat setelah penundaan pengumuman hasil tes administrasi WUBI Pematang Siantar.

     Entah kenapa keyakinanku untuk masuk di WUBI ini tidak ada kata “pesimis”. Aku selalu ngobrol dengan diri sendiri dan berdiskusi kalau hasil tidak akan khianat dengan proses. Dan akhirnya ketika mindset kita terus ditumbuhkan, akan ada hasil yang memuaskan.

 

 

Selain dari WA Simpul Jari, pengumuman juga datang dari Instagram Bank Indonesia Pematang Siantar.

 

 


 

C.     100 in 2015

Rasa syukurku tak terbendung kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan rezeki ini. Bisa berkumpul dan berkenalan dengan para entrepreneur luar biasa. Dulu pernah mencatat 100 impian di tahun 2015. Menjadi seorang entrepreneur muda, walau kemarin itu nulisnya masih usia remaja dan belum tau bakalan memiliki usaha apa. Alhamdulillah ini adalah salah satu 100 target hidup di no.3 yang dikatakan terwujudkan melalui program WUBI dan insya Allah akan menyandang amanah preneuurs. Bismillah !

 

CHAPTER IV
PENILAIAN

A.    Be Brave!

 

“Hal baik selalu datang dari kebijaksanaan. Hal hebat selalu datang dari keberanian”-anonim

 

2 April 2022---

“Mba Rini, ini rumahnya dimana ya? Coba shareloc mba.” Suara berciri khas logat jawa mengalir dari telepon, pak Kunang selaku Tim Pengembangan UMKM BI.

 

Ini adalah hari Visit Tim BI dan Imuts Pelatih Indonesia untuk melihat lokasi usaha. Sebelumnya aku melihat lokasi usaha yang telah di visit duluan lewat WAG, ada sedikit rasa minder karena lokasi usaha simpul jari yang belum teralokasi. Untuk sekedar papan nama / plang saja tidak terpasang, bahan-bahan dari simpul jari juga masih sedikit dan tim usaha yang masih sendirian kala itu. Namun, tak menyurutkan semangatku untuk tetap optimis.

 

“Seberapa yakin mba diterima di WUBI?”, Suara Coach Marioto Asto masih terngiang di pikiran ketika seleksi Asessment tanggal 2 April di Gedung BI Siantar. Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, teringat sebuah tips dari alumni WUBI Batch I.

 

“Dek, nanti kalau kau masuk tahap seleksi wawancara. Jawab optimis, jangan lenyeh-lenyeh, harus yakin. Gapapa ke-PD an, tapi itu harus. Karena kau mau ditempah jadi pengusaha, bakalan banyak kegiatan di WUBI nanti dek. Intinya yakin dan optimis.” Sebuah tips dari abang alumni WUBI Batch I.

 

“Kalau ditanya seberapa yakin, saya yakin penuh untuk diterima menjadi peserta WUBI Coach. Karena ada masa depan saya di sini.” Jawaban ini adalah spontanitas keyakinan yang membuat kelulusan udah sampai tahap visit ke lokasi usaha.

 

Sewaktu kunjungan dan sedang berlangsung pertanyaan bertubi-tubi datang dari para Coach. Ada Coach Marioto, Coach Wahyu dan Tim BI ada Pak Kunang. Masyaa Allah, simpul jari jadi juga di datangi orang luar biasa. Coach mar bertanya-tanya tentang Bisnis Model Canvas yang pernah aku buat dan Coach Wahyu bertanya seputar Digital Marketing dari Simpul Jari. Alhamdulillah banyak sekali insight yang didapat ketika dikunjungi, walaupun sedikit rasa takut dan tidak percaya diri. Karena kunjungan usaha ini mengalihkan segala yang terpancar dari sisi ownernya dan usahanya. Tapi ada prinsip Doa, usaha, ikhtiar dan tawakkal yang membuatku maju terus dan pantang mundur.

 

 

CHAPTERV
BOOTHCAMP IN NIAGARA

 

A.    Selamat Datang Entrepreneur!

Sebelum langkah esok mulai menapaki jejak pengalaman, aku bersusun untuk perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Dering telepon berbunyi, “Assalamu’alaikum, salam sejahtera Bapak/Ibu sekalian.. Sehubungan dengan proses rekrutmen calon WUBI 2022, kami ucapkan selamat kepada Bapak/Ibu yang dinyatakan lulus tahap asessment, interview dan visit. Adapun perlengkapan yang harus dibawa sebagai berikut:..”, WA Grup WUBI Pematang Siantar. Sepertinya dua tas yang aku bawa akan kurang mawadahi barang bawaan dan akhirnya dua tas ditambah satu berisi produk Simpul Jari memenuhi tangan.

            Rabu, 18 Mei 2022.

Aku beranjak dan menyiapkan kemas untuk berangkat melangkahkan kaki. Pukul 10.00 WIB, berpamitan dengan mamak di rumah. Menuju ke lokasi bersama Bu Misriani (Dodol Widia) dari arah Kisaran yang menjemputku ke rumah bersama Bang Madit (Telur Asin Asap) dan kak Alisa Snack.

            Ada rasa berbeda dan vibrasai yang membara saat menempuh perjalanan menuju babak baru sebagai entrepreneur unggulan di Program Bank Indonesia Pematang Siantar.

            Disepanjang perjalanan menuju Hotel Niagara Parapat. Kami saling bercengkrama di dalam mobil. Sampai tiba di lokasi pukul  01.00 WIB, lanjut makan siang di pekarangan rumput sekitar hotel menghadap luasnya Danau Toba yang tidak pernah bohong dalam memberikan makna Ciptaan Allah. Masyaaa Allah, Nikmat mana lagi yang ku Dustakan!

            Hingga Check in Hotel, tepat sore hari. Nama Rini Febriani Sari bersandingan dengan Ibu Henny Floren Meliala (Roti Ketawa Pelangi), akhirnya dapat teman baru, di suasana yang baru dan adaptasi lingkungan baru juga. Selamat datang wahai aku yang masih minim pengalaman, dari sinilah awal jendela mimpimu terbuka wahai diriku!

B.     First Impression Entrepreneur 

Wajah baru dan vibrasi yang membara membawa suasana di gelanggang Niagara Hotel. Tepat saat sore ke malam hari, wajah-wajah ini membuat semangat di dalam diri kembali bertambah. Bertemu tiga coach yang memunculkan aura positif  dan frekuensi yang membuat senyum merekah, seperti layaknya mentari pagi meyapa dengan sinar yang hangat.

 

Pertemuan pertama ini langsung pembagian tim, dari 30 peserta dibagi menjadi 5 bagian. Wah, simpul jari akhirnya ada di tim 3. Terdiri dari 6 pemeran utama dan kami beri nama dengan tim Cuan. Agar selalu menghasilkan pundi-pundi rupiah setiap harinya.

 

“Disini kita beri nama kelompok masing-masing ya, dengan syarat namanya harus berkaitan dengan ilmu usaha”, kata coach Ade. Akhirnya kami sepakat dan tuntas, Cuan adalah pilihan yang paling menggiurkan untuk diterapkan di tim 3 yang lucu-lucu imut dan berjiwa muda serta menarik. Kenapa menarik? Karena tim 3 ini lengkap, mulai dari yang termuda hingga yang tertua pun ada. Kali ini adalah adaptasi baru yang harus dilakukan dalam berelasi ketika kita ingin usaha lebih maju.

 

Coach Ade juga bilang, malam pertama boothcamp ini adalah pengenalan dan kita sepakati rules selama kegiatan berlangsung. Dan akhirnya, kesepakatan itu berada pada garis gawat darurat. Denda yang bisa membuat roboh rekening dan dompet, dendanya para entrepreneur ketika tidak mematuhi rule kegiatan berlangsung.

Keren ya, baru kali ini mengikuti kegiatan yang berani membuat denda dengan angka begitu menggemaskan. Dari sini aku belajar untuk tidak takut mengambil resiko. Tapi bukan berarti harus melanggar rules yang disepakati.

Malam pertama pertemuan ini sangat membuka pintu hati. Kenapa? Karena yang dibahas adalah mengenai Potensi Diri oleh ketua Coach IMUTS, beliau adalah Coach Marioto Asto.

“Tujuan diciptakannya manusia apa?”, Owner Oemah Tani bertanya kepada seluruh audiens yang menyandang panggilan entrepreneur pada malam itu. Atas pertanyaannya, aku berpikir keras. Seperti dulu guruku di MAN Pematang Siantar bertanya tentang tujuan hidupku di dunia. Dan pertanyaan ini adalah jawaban dari segala persoalan hidup kita.

Benakku menjawab, tujuannya adalah untuk mengabdi kepada Allah. Dan beliau menjelaskan bahwa, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah dan menjadi seorang pemimpin. Ketika sorang manusia paham tujuan hidupnya, maka potensi yang ada dalam dirinya akan menjadi sebuah peluang manfaat untuk beribadah kepada Tuhan. Sehingga, ketika manusia tau letak potensinya dimana. Ia akan dengan mudah memimpin dirinya sendiri sebelum ia memimpin orang lain. Karena sejatinya, orang yang bisa memimpin dirinya sendiri dia telah berhasil merubah dirinya menjadi seorang pemenang.

 

Berarti, potensi diri juga harus diseimbangi dengan kebiasaan apa yang kita lakukan di setiap harinya. Dan kesempurnaan yang Allah titipkan itu ada dihati kita, ketika kita pandai bersyukur atas segala kenikmatan dari-Nya.

Saat itu aku tengah membayangkan bagaimana aku 5 tahun mendatang dari sekarang ketika melihat sebuah kata-kata di buku boothcamp.

“Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan anda lima tahun ke depan. Kecuali dua hal, orang-orang di sekeliling anda dan buku apa yang anda baca" - Charles Jones.

Sambil membayangkan bagaimana kondisiku nanti, aku menguatkan diri. Lakukan yang terbaik saat ini juga, tidak ada kata nanti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seseorang kalau tidak mengintegrasikan mindsetnya, tidak akan menemukan unic talent-nya. Sukses itu mudah, yang penting yakin. Positif thinking, positif feeling. – Coach Mar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Malam ini sudah terasa bakaran semangat dan merubah pola pikir untuk menemukan potensi diri.

“Oke teman-teman, untuk melanjutkan dan mengolah kreatifitas pembukaan WUBI besok. Kita malam ini buat yel-yel perkelompok. Silakan disiapkan sebelum kembali ke kamar dan latihan.” Kata Coach Ade, owner CV Sapo Durin.

“Ayo ges-ges, kita tentukan dulu liriknya. Gladi resik dulu kita ya”, Bang Putra selaku ketua kelompok Cuan. Beliau ini orangnya Fix Ekstrovert (Terbuka), pencair suasana dan jago marketing selling. Kalau ditelusuri beliau ini pernah kerja di bank, nampaknya menguasai ilmu persuasif. Bisa menarik kepercayaan orang hanya dari berbicara.

Dan akhirnya, yel-yel tim cuan sudah jadi dengan menggunakan nada disini senang disana senang.

 

“Disini Cuan

Disana Cuan

Dmana mana hati ku Cuan

Di rumah

Di luar Cuan

Bnyak Cuan hatiku gembira

 

Lalalalalalalalala Cuan

Lalalalalalalalala Cuan

Lalalala Cuan, tetap Cuan 2x

 

Cuan Cuan yes yes yes”

 

Selama gladi resik yel-yel, aku menghabiskan tawa lebih banyak. Karena tingkah dari ketua tim cuan membuat geli dan selalu bisa mencairkan suasana. Jadi kalau dibandingkan dengan bang Ali, yang diam aja ketika gerakan yel-yel nya berlangsung itu membuatku tawa lepas. Kekeluargaan di kelompok cuan pada malam pertama WUBI sudah mulai terasa.

 

C.     Jendela Mulai Terbuka Satu Persatu

Subuh tadi tidak begitu dingin disambut curahan air dingin. Ku lihat Bu Heny sedang pulas tertidur, tapi suaranya menyapa saat aku mengenakan mukenah untuk sholat.

“Sholat Rin?”

“Iya bu, sembahyang dulu. Habis ini kita langsung siap? Untuk ke bawah.”

“Oke, Rin.”

Beliau adalah owner Roti Ketawa Pelangi yang satu kamar denganku. Banyak insight yang didapat, seperti usaha beliau yang sudah mengikuti IKRA dan masih banyak lagi. Aku berpikir, pasti nanti saat di ruangan banyak yang keren dan luar biasa. Yang pasti aku akan lebih banyak belajar dari mereka.

 

Berkaca, melihat penampilan serapi ini. Di bawah sinar lampu kamar hotel. Aku membayangkan diri sedang di atas panggung. 1 microphone yang ada diantara dua bola mataku, ribuan audiens yang siap memasang telinga dan hati, serta lampu panggung dan juga kamera. Aku seperti melihat diriku ada di masa depan. Entah jadi apa, yang bisa kupastikan adalah aku bisa menginspirasai dan memberi banyak manfaat pada orang sekitarku. Walaupun masih ada mental block yang harus ditepis.

Potret diri saat mengenakan jas untuk acara WUBI

 

Potret diri bersama owner kece WUBI sebelum acara dimulai

-----------

Pembukaan program WUBI pun dimulai, semua peserta menyiapkan diri pada masing-masing kelompok. Saatnya tim cuan memperkenalkan diri di atas panggung dan membukanya dengan yel-yel.

Saatnya tim cuan bersiap-siap (sepertinya tim ini yang sedikit heboh ya wkwk)

Setelah memperkenalkan diri, setiap owner memamerkan dan memajang produknya di ruangan. Tepat setelah memperkenalkan diri, aku dipanggil untuk mewakili 3  peserta ke depan dalam penyematan tanda dibukanya program WUBI Batch II. Speechles, menjadi peserta termuda diantara yang lainnya dan baru tau kalau yang termuda. Ada rasa haru dan bangga, sekaligus bertanya dalam diri, “Apa aku bisa dan pantas berada disini?”. Kalau dalam bahasa kekiniannya, overthinking. Selalu bertanya-tanya dalam diri dan menjelaskan bahwa ini adalah amanah untuk memupuk diri setelah program ini selesai.

Saatnya tiap owner berdiri di belakang produk yang sudah dipajang, ini adalah momen yang sangat bersejarah. Bisa memamerkan karya sendiri di depan orang-orang hebat. Masyaa Allah Tabarakallah, bersyukur dikelilingi lingkaran positif.

“Produknya yang mana dek?”, Suara dari sebelah kiri menyapaku.

“Ini bang (sambil menunjuk ke produkku), abang yang mana?”

“Ini dek (menunjuk ke produknya di depan produkku)”

Salah satu entrepreneur WUBI termuda setelahku, pria 24 tahun. Usahanya berupa produk parfum dengan brand Azhar Parfume.

Potret pameran produk entrepreneur WUBI di ruangan Boothcamp :

 

 

 

 

 

 

Rehat sejenak setelah memamerkan produk dan dikunjungi para pendukung UMKM. Dilanjut dengan materi oleh Coach Mar tentang Visi & Misi kehidupan pribadi dan juga usaha.

Sebuah rahasia yang menjadikan faktor kesuksesan seseorang adalah berasal dari dream, visi, misi, goal dan hasil antara gagal atau sukses. Maka sukses adalah hak dan kewajiban setiap individu dalam mencapai tujuan hidupnya. 

Rata-rata 5% orang mempunyai tujuan jelas dan tertlis mempunyai tingkat keberhasilan 97%. 25% punya tujuan tapi tidak tertulis tingkat keberhasilan < 3%. Sementara 70% orang yang tidak mempunyai tujuan, tingkat keberhasilan 0%.

Setiap orang mempunyai mimpi, namun mimpi juga direalisasikan oleh visi yang didukung oleh positif  feeling. Misi yang didukung positif thinking. Kemudian goal tanpa tapi dan tanpa nanti. Tinggal menunggu hasil atas usaha yang telah dilakukan.

        Hari kedua mulai membuka jendelanya, ada kegiatan yang sangat mencengangkan. Pagi ini seluruh peserta dilepas di kota Parapat dengan membawa satu buah KTP (Kartu Tanda Penduduk) tanpa membawa HP, Uang dan benda-benda berharga lainnya. Setiap kelompok harus membawa uang tunai senilai 2 juta ketika kembali ke tempat siang hari nanti.

          Tim Cuan sangat antusias untuk mencari pundi-pundi rupiah. Akhirnya, owner Fourya Snack, insan Bandrek dan Simpul Jari keliling parapat dan ketemu sebuah tempat menjual Ikan dan Kacang Sihobuk.

“Pung, berapa ini? Boleh kami jualkan pung?”

“Untuk apa kalian jualkan nang?”

“Kami Mahasiswa pung, ada PKL kewirausahaan dari BI. Boleh ya Pung?

“Oiya nang, bolehlah. Ikannya yang kecil 10 ribu, yang sedang 15 ribu, yang besar 20 ribu. Kacangnya 10 ribu. Bebaslah kalian ya menjualnya, yang penting harganya uda opung buat. Kalian kalok mau jualan jangan ke sana ya, sepi itu. Lagi sepi tamu kita minggu ini.”

“Oke siap Opung”

            Keliling sampai 2 jam lebih tapi tak ada yang beli.

“Wee gak ada yang belik.”, Kak alif bersedih.

“Sabar dulu alifia, kita masih usaha ini.”, Bang Ali menenangkan.

“Udah yok kita balekkan aja. Ikut Bu Nining di Kede

Kopi bantu buk rini sama bang putra juga.”, aku mengusulkan.

“Pakk, bukk! Ikannya ini asin enak ikan parapat ini pak buk. Kacangnya juga enak ini ayok buk dicoba kacang sihobuk termantap.” Kak Alif berseru.

“Lah, aku orang Parapat nang. Salah nawar kalian bahh.”

Kami terkekeh karena salah sasaran, tak sesuai target. Akhirnya, kami kembali ke pangkuan ibu. Buk nining, buk Rini dan bang Putra sedang kerja di Kede Kopi milik Bagus Trans. Mereka punya toko pakaian, hotel, transportasi dan usaha lainnya. Karena kami datang, akhirnya kami bantu jualan dan bersih-bersih toko.

 

                        Alhamdulillah, akhirnya setelah selesai kami digaji 20.000/orang. Lanjut dari penjualan ikan tadi dapat 50.000. Beli makan nasi untuk kembali ke Hotel Niagara.

                                    Setelah kembali ke ruangan, alhamdulillah tim cuan membawa uang senilai 280.000 dan menjadi juara kedua. Mendapatkan reward jajanan yang diambil di depan dengan berlomba pula. Masyaa Allah, seru banget hari itu.

 

D.    Perjalanan Panjang Untuk Waktu Singkat

Hari terakhir Boothcamp mempunyai kesan tersendiri. Mulai dari merespon bentuk bahagia, menciptakan peluang untuk bertumbuh dan renungan diri kita buat menikmati hidup.

Hari ini ada tanda tangan dari para entrepreneur hebat dan coach yang luar biasa. Empat hari tiga malam yang menciptakan kesan dan pesan yang berwarna. Adalah suatu keajaiban bertemu dengan orang-orang yang punya alur sefrekuensi. Karena dengan siapa kita duduk pada hari ini akan menentukan siapa kita lima tahun mendatang.

            “Rin, ibu pulang sama Andri. Mobilnya kosong. Coba Rini bilang sama dia siapa tau masih bisa”, Bu Misriani.

“oke siap bu”, aku membalas.

 

            Akhirnya aku ikut bersama rombongan bang Andri, Bu Misriani dan Kak dela Kolang Kaling. Awalnya, karena pulang sudah terlalu larut sore. Kami beralih putar haluan mengantar kak Dela ke Simantin, dan sampai di siantar sudah terlalu larut malam. Akhirnya memutuskan mengantar bu Misriani ke Kisaran. Perjalanan pulang ke rumah hampir satu harian. Tapi sangat berterima kasih kepada Bang Andri yang sudah rela waktu dan tenaganya mengantar kami sampai ke rumah. Semoga Allah balas kebaikannya dan dilancarkan semua usahanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

-Ketika kita mulai mengeluh tentang hidup, pastikan bahwa kita

 

 

 

 

 

 

 


 

CHAPTER VI
PENDAMPINGAN

A.    Pertumbuhan dan Perubahan

Selama proses pendampingan berlangsung, ada hal yang membuatku tertegun lagi dan lagi soal keyakinan dan pantang menyerah. Dari awal pendampingan pertama, mulai dari materi merubah mindset, kebiasaan, dan pengembangan owner pribadi.

Hingga belajar foto produk, Find AHA Business, Business Model Canvas, HPP (Harga Pokok Produksi), Business Plan, Five Ways Marketing, Sales Activity & Maketing Calender, setting sosial media, marketplace dan masih banyak lagi materi selama pendampingan. Yang mana kesemuanya itu memberikan feed back, mengajarkan untuk konsisten, lebih disiplin, serta memberikan banyak insight untuk pengembangan bisnis. Dan yang paling membuat kita lebih bersemangat adalah bertemu orang-orang bervibrasi positif juga satu frekuensi di WUBI. Yang mana semuanya dapat menambah semangat dalam menjalankan bisnis agar naik kelas.

Untuk simpul jari sendiri, selama di dampingi oleh IMUTS Pelatih Indonesia mengalami banyak pertumbuhan dan perubahan meski ketika suatu usaha naik level, akan ada banyak ujian dan cobaan yang naik level juga tingkat uji cobanya. Mulai dari sisi keluarga, lingkungan, bahkan diri sendiri. Tapi semuanya tak menyurutkan untuk lebih scale up agar optimal dan maksimal. Meski dalam kaitannya, membuka usaha keterampilan ini membutuhkan waktu yang lama hanya dalam menciptakan satu produk.

Memikirkan modal waktu yang terbuang lebih banyak, justru memupuk dan mengembangkan rasa sabar ini lebih luas. Bagaimana seni bekerja, dari situlah prinsip filosofi merajut dan menyulam bergerak.

Hingga suatu ketika tanpa disangka-sangka, ada beberapa kali dalam sebulan simpul jari menerima orderan banyak dari customer yang tanpa ditawarkan dan dipromosikan saat orderan mulai sepi. Namun, energi positif (Positif Thinking dan Positif Feeling) dalam menjalani bisnis yang diajarkan oleh para Coach IMUTS, membuahkan hasil dan mendatangkan nilai.

Seperti yang dikatakan Coach Mar,”Kesuksesan itu datang dari pemantasan, bukan pengejaran. Dari hati yang tenang dan bahagia”. Ini adalah salah satu magic word yang bersumber dari alam bawah sadar, hingga terus untuk melangkah dan pantang menyerah.

Disisi lain, Coach Ade juga pernah berkata, “Jualan itu transfer keyakinan, apa yang membuat produk kita layak dibayar dengan harga 300rb?”. Dari sini simpul jari mencoba berpikir berulang kali ketika pernah berjualan secara langsung tatap muka dengan konsumen. Ada rasa ragu menawarkan produk dengan price yang sangat tinggi. Dan ternyata semua itu terjawab ketika suatu usaha sudah paham akan value proposition yang pernah terstruktur saat belajar Business Model Canvas. Dan lagi, semua tentang keyakinan juga pantang menyerah untuk selalu upgrade ilmu. Karena Trouble in My Business itu diatasi dengan memperkaya ilmu dan terus belajar.

Simpul jari juga mengadakan kelas rajut. Ketika menyelenggarakan sendiri dan membuka kelas, sedikit sekali yang ikut. Tapi tanpa disangka-sangka lagi, suatu pagi ditelfon bunyi berdering.

“Halo, dengan Simpul Jari? Mba, bisa ngajarin rajut sama ibu-ibu Persit di Korem? Sekitar 20 orang gitu mba.”

Tanpa tapi dan tanpa nanti, “Bisa Bu” meluncur dari pembicaraan. Dan pada akhirnya ini adalah kali pertama workshop merajut Simpul Jari bersama tim mengajari ibu-ibu merajut tulip dalam satu harian. Rasa syukur saya tak terendung kala itu. Meski ada rasa takut dan overthinking berlebihan masuk ke dalam diri. Takut apa? Takut tidak bisa ibu-ibu itu paham dengan pelatihan rajut, takut salah, takut penyampaiannya tidak bagus.

Namun, semua itu aku tepis dengan kata, “Mumpung masih muda, kapan lagi bisa berkontribusi?. Mumpung sehat badan dan waktu, kapan lagi ?, bukannya impianmu bisa mengajar rajut dan membuka workshop pelatihan? Ayo, kamu bisa.” Dengan langkah bismillah dan pasti aku dan salah satu Tim Creative bernama Kak Hesti memulai workshop perdana bersama ibu-ibu Persit di Korem.

 

 

Sampai saat ini, Simpul Jari terus yakin dan berusaha bahwa setiap kesulitan ada kemudahan. Dan semua kemenangan besar itu diciptakan dari memulai sesuatu yang selama ini kita takutkan.

 

B.     Bakalan Missing Every Moment

Sudah akhir pendampingan, akhirnya ini adalah buku yang aku buat selama simpul jari di dampingi. Buku ini adalah salah satu Homefun terberat bagi seluruh peserta mungkin ya, tapi dari buku ini aku banyak belajar tentang konsisten. Dulu suka menulis dan menggeluti dunia kepenulisan sejak SMA-Kuliah, namun rasa sabar dalam menulis lebih besar ketimbang rasa sabar saat merajut. Dan berkecimpung di organisasi kepenulisan di Medan yaitu FLP (Forum Lingkar Pena) Medan dan diamanahkan menjadi Kadiv Humas beberapa saat saja. Dan sudah menerbitkan satu buku Antologi Cerpen kala itu. Namun, karena rajut lebih menggiurkan, jadi beralih ke rajut merajut.

Simpul Jari akan banyak rindunya dengan program WUBI, pelatihan bisnis pertama kali yang sudah menggetarkan jiwa. Hingga duu pernah beberapa kali aku pernah mengikuti seminar dan webinar bisnis, dan yang paling hangat masuk ke dalam hati adalah program WUBI. Terima kasih Bank Indonesia dan IMUTS Pelatih Indonesia. Simpul Jari akan selalu terus bertumbuh dan memperjuangkan mimpi yang pernah dipresentasikan saat Booth Camp dan ditulis dalam selmbar karton putih berjudul “MY DREAM BOARD”.

POTRET DI SETIAP MOMENT

 

Comments